Senin, 28 September 2015

Peranan Kota Rentang dan Kota Cina dalam sejarah perdagangan di pesisir Sumatera Timur


 Didaerah Sumatera Utara khususnya kota Medan terdapat berbagai macam situs peninggalan sejarah. Peninggalan tersebut adalah hasil kontak niaga, pertukaran, bandar dan pelabuhan yang maju pada jamannya seperti keramik dan gerabah. Kedua situs tersebut yaitu Kota Rentang dan Kota Cina yang memiliki arti yang sangat penting dalam menelusuri jejak-jejak peradaban masa lalu Kota Medan. Jalur perdagangan sungai (Riverine) merupakan pintu masuk ke pusat  perdagangan seperti kota Rentang dan kota Cina melalui sungai Deli,sungai Wampu,dan sungai Sunggal yang semuanya bermuara ke Pelabuhan Belawan
     Kota Rentang berada di dataran rendah yang merupakan bagian lembah Deli di wilayah pantai Timur Sumatera merupakan lahan rawa yang banyak dipengaruhi pasang surut air laut. Situs Kota Rentang diperkirakan mencapai 500-1000 Ha yang ditandai dengan temuan batu kubur (nisan) yang tersebar luas di kawasan tersebut.  Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Rentang berlangsung pada sekitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai, Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Rentang yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13. Jenis temuan ekskavasi dan carbon dating menunjukkan tarik yang sudah lama yakni sejak abad 13-14 M. Temuan seperti archa Budha, Lakhsmi, tembikar, koin, bata fragmen candi, maupun bongkahan perahu tua menunjukkan persentuhannya dengan berbagai komunitas seperti China, Hindu Tamil, Vietnam, Arab maupun Mungthai. Hasil ekskavasi yang telah dilakukan menunjukkan temuan berupa mata uang (koin), keramik, tembikar, sampah dapur, serta batu kubur (nisan) yang berangka tahun 14-15 M dan tersebar di seluruh kawasan Kota Rentang.Diyakini, kawasan ini memiliki kesibukan yang luar biasa sebagai Bandar pelabuhan besar berskala Internasional karena persis berada di samping sungai Deli yang bermuara ke laut Belawan  yang dikelola dibawah satu kekuatan administratif pada masa abad ke-7 M hingga 14 M. Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis kota Rentang yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelayaran melalui penggunaan perahu-perahu dagang bertonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.
Pecahan Tembikar dan Keramik Kota Rentang
            Temuan arkeologis berupa pecahan keramik, batu bata berfragmen candi ataupun batu nisan yang ditemukan di kota Rentang menunjukkan periode yang sama dengan masa keemasan dinasti Sung (abad ke-10) dan Yuan (abad ke-13) di Tiongkok, ataupun nisan yang persis sama dengan yang terdapat di Aceh. Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh sarjana dari Indonesia, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat yang menemukan situs Kota Rentang yang terletak di Desa Kota Rentang, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang .Temuan tersebut menunjukkan bahwa di Sumatera Utara pernah ada aktivitas penghunian. Buktinya, ada banyak temuan keramik Cina, batu nisan, dan tulang hewan,aneka keramik yang ditemukan peneliti paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Ada juga temuan keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12-14. .Di sekitar lokasi, juga terdapat batu bata yang diduga bahan bangunan sebuah candi. Namun, belum dapat dipastikan apakah batu bata merah itu potongan candi.Peneliti asal Inggris, McKinnon menduga keberadaan situs itu erat kaitannya dengan situs Kota Cina yang berlokasi di sekitar danau Siombak Indah Belawan saat ini. Awal penemuan situs itu adalah pada 1972 saat Mc Kinnon mengunjungi lokasi itu bersama kolektor barang antik.
           Temuan arkeologis situs Kota Rentang membuktikan bahwa pada masa lalu sudah berlangsung hubungan perdagangan nasional dan internasional. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang.Namun pada akhirnya kota ini jatuh atas gempuran pasukan Aceh dan menyingkir ke daerah Delitua di sebelah Timur Kota Medan. Dari sana, lintasan peradaban tua kota Medan menjadi punah selama-lamanya.
Kota Cina memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kota Rentang  karena kedua kota ini merupakan pusat perdanganan  pada masa itu.Catatan resmi tentang kebaradaan situs kota Cina telah ada sejak tahun 1826,berkenaan dengan laporan Andreson yang pada tahun 1823 yang diperintahkan Gubernur Penang W.E Philips melakukan perjalanan ke Sumatera Timur untuk survei politik ekonomi bagi kepentingan Inggris.Kota Cina pernah menjadi tempat perdagangan utama dari serangkaian pelabuhan di pesisir timur laut Sumatera pada abad ke-11 sampai abad ke-14. Daerah ini menjadi bagian jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai Cina Selatan. Thailand, Jawa, Sri Lanka, India Selatan, dan Semenanjung Melayu merupakan beberapa kawasan yang termasuk di dalamnya.Selain pusat perniagaan, situs kota Cina juga menjadi pusat peradaban. Di beberapa titik terdapat artefak seperti manik-manik, kaca, dan benda-benda lain yang diduga kuat terkait erat dengan prosesi peribadatan.Para pedagang terutama dari Cina sangat bergantung pada cuaca dan angin di laut karena menggunakan kapal untuk menyeberang ke Sumatera. Pada saat cuaca kurang bersahabat mereka terpaksa tinggal beberapa pekan, bahkan beberapa bulan di situs kota Cina sampai cuaca membaik. Pada masa penantian itulah mereka memenuhi kekosongan aktivitas spiritual dengan mendirikan tempat peribadatan.
Proses Evakusai Artefak di situs Kota Cina
Situs Kota Cina yang hingga kini belum habis tergali adalah kerajaan yang makmur dan terdapat pelabuhan laut(Bandar) internasional yang dihuni para imigran asal Tiongkok.Pada umumnya,bangsa Cina datang dengan latar belakang keinginan untuk mencari peruntungan hidup lebaih baik dari tempat asalnya,dengan melakukan bisnis perdagangan.Di Bandar tertua,diperkirakan pada masa Dinasti Song,Kota Cina yang berada di sebelah utara kota Medan ini mengalami kejayaan.Kawasan daratan dan pantai dihuni imigran dari negri Tiongkok dengan pelabuhan rakyat serta jalur perdagangan tersibuk.Transaksi perdagangan seperti tembikar,guci,keramik,rempah-rempah, dan termasuk arca berlanggam Chola atau India Selatan diperjual belikan.Tidak hanya niaga,tapi dibandar tertua di kota Medan ini juga berlangsung aktivitas budaya.Kemajuan
perdagangan di Bandar Kota Cina mendadak terhenti setelah kota itu dilanda musibah alam.
            Situs sejarah kota Rentang dan kota Cina belum ter-ekspose secara baik padahal kaya dengan berbagai peninggalan sejarah khususnya yang berkaitan dengan perdagangan melalui pelayaran internasional pada masa periode abad ke 12-14 M.Lokasi situs ini berada dalam wilayah kota Medan dan dapat terjangkau dengan mode teransportasi sehingga perlu di angkat menjadi sejarah lokal kota Medan dan Sumatera Utara khususnya.