Didaerah
Sumatera Utara khususnya kota Medan terdapat berbagai macam situs peninggalan
sejarah. Peninggalan tersebut adalah hasil kontak niaga, pertukaran, bandar dan
pelabuhan yang maju pada jamannya seperti keramik dan gerabah. Kedua situs
tersebut yaitu Kota Rentang dan Kota Cina yang memiliki arti yang sangat
penting dalam menelusuri jejak-jejak peradaban masa lalu Kota Medan. Jalur
perdagangan sungai (Riverine) merupakan pintu masuk ke pusat perdagangan seperti kota Rentang dan kota
Cina melalui sungai Deli,sungai Wampu,dan sungai Sunggal yang semuanya bermuara
ke Pelabuhan Belawan
Kota Rentang berada
di dataran rendah yang merupakan bagian lembah Deli di wilayah pantai Timur
Sumatera merupakan lahan rawa yang banyak dipengaruhi pasang surut air laut. Situs Kota Rentang diperkirakan mencapai 500-1000 Ha yang
ditandai dengan temuan batu kubur (nisan) yang tersebar luas di kawasan
tersebut. Beberapa asumsi
diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Rentang
berlangsung pada sekitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat
niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai,
Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota
Rentang yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13. Jenis
temuan ekskavasi dan carbon dating menunjukkan tarik yang sudah lama yakni
sejak abad 13-14 M. Temuan seperti archa Budha, Lakhsmi, tembikar, koin, bata
fragmen candi, maupun bongkahan perahu tua menunjukkan persentuhannya dengan
berbagai komunitas seperti China, Hindu Tamil, Vietnam, Arab maupun Mungthai. Hasil ekskavasi yang telah dilakukan menunjukkan temuan
berupa mata uang (koin), keramik, tembikar, sampah dapur, serta batu kubur
(nisan) yang berangka tahun 14-15 M dan tersebar di seluruh kawasan Kota
Rentang.Diyakini,
kawasan ini memiliki kesibukan yang luar biasa sebagai Bandar pelabuhan besar
berskala Internasional karena persis berada di samping sungai Deli yang
bermuara ke laut Belawan yang dikelola
dibawah satu kekuatan administratif pada masa abad ke-7 M hingga 14 M.
Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas
maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan
dari letak strategis kota Rentang yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang
ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad
ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelayaran
melalui penggunaan perahu-perahu dagang bertonase besar dengan memanfaatkan
navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada
awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang
menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta
perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama
menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun
barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.
![]() |
| Pecahan Tembikar dan Keramik Kota Rentang |
Temuan
arkeologis berupa pecahan keramik, batu bata berfragmen candi ataupun batu
nisan yang ditemukan di kota Rentang menunjukkan periode yang sama dengan masa
keemasan dinasti Sung (abad ke-10) dan Yuan (abad ke-13) di Tiongkok, ataupun
nisan yang persis sama dengan yang terdapat di Aceh. Hal ini didasarkan pada
penelitian yang dilakukan oleh sarjana dari Indonesia, Singapura, Inggris, dan
Amerika Serikat yang menemukan situs Kota Rentang yang terletak di Desa Kota
Rentang, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang .Temuan tersebut menunjukkan
bahwa di Sumatera Utara pernah ada aktivitas penghunian. Buktinya, ada banyak
temuan keramik Cina, batu nisan, dan tulang hewan,aneka keramik
yang ditemukan peneliti paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14.
Ada juga temuan keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad
ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan
keramik Khmer abad ke-12-14.
.Di sekitar lokasi, juga
terdapat batu bata yang diduga bahan bangunan sebuah candi. Namun, belum dapat dipastikan apakah batu bata merah itu
potongan candi.Peneliti asal Inggris, McKinnon
menduga keberadaan situs itu erat kaitannya dengan situs Kota Cina yang
berlokasi di sekitar danau Siombak Indah Belawan saat ini. Awal penemuan situs
itu adalah pada 1972 saat Mc Kinnon mengunjungi lokasi itu bersama kolektor
barang antik.
Temuan arkeologis situs Kota
Rentang membuktikan bahwa pada masa lalu sudah berlangsung hubungan perdagangan
nasional dan internasional. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu
pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan
mempertemukan masyarakat pedalaman yang menghasilkan berbagai komoditas yang
diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia dengan kelompok masyarakat
pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga
dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang.Namun pada
akhirnya kota ini jatuh atas gempuran pasukan Aceh dan menyingkir ke daerah
Delitua di sebelah Timur Kota Medan. Dari sana, lintasan peradaban tua kota
Medan menjadi punah selama-lamanya.
Kota Cina
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kota Rentang karena kedua kota ini merupakan pusat
perdanganan pada masa itu.Catatan resmi tentang kebaradaan situs kota Cina telah ada sejak tahun 1826,berkenaan dengan laporan Andreson yang pada tahun 1823 yang diperintahkan Gubernur Penang W.E Philips melakukan perjalanan ke Sumatera Timur untuk survei politik ekonomi bagi kepentingan Inggris.Kota Cina
pernah menjadi tempat perdagangan utama dari serangkaian pelabuhan di pesisir
timur laut Sumatera pada abad ke-11 sampai abad ke-14. Daerah ini menjadi
bagian jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai
Cina Selatan. Thailand, Jawa, Sri Lanka, India Selatan, dan Semenanjung Melayu
merupakan beberapa kawasan yang termasuk di dalamnya.Selain pusat perniagaan,
situs kota Cina juga menjadi pusat peradaban. Di beberapa titik terdapat artefak
seperti manik-manik, kaca, dan benda-benda lain yang diduga kuat terkait erat
dengan prosesi peribadatan.Para pedagang terutama dari Cina sangat bergantung
pada cuaca dan angin di laut karena menggunakan kapal untuk menyeberang ke
Sumatera. Pada saat cuaca kurang bersahabat mereka terpaksa tinggal beberapa pekan,
bahkan beberapa bulan di situs kota Cina sampai cuaca membaik. Pada masa
penantian itulah mereka memenuhi kekosongan aktivitas spiritual dengan
mendirikan tempat peribadatan.
![]() |
| Proses Evakusai Artefak di situs Kota Cina |
Situs Kota Cina
yang hingga kini belum habis tergali adalah kerajaan yang makmur dan terdapat
pelabuhan laut(Bandar) internasional yang dihuni para imigran asal
Tiongkok.Pada umumnya,bangsa Cina datang dengan latar belakang keinginan untuk
mencari peruntungan hidup lebaih baik dari tempat asalnya,dengan melakukan
bisnis perdagangan.Di Bandar tertua,diperkirakan pada masa Dinasti Song,Kota
Cina yang berada di sebelah utara kota Medan ini mengalami kejayaan.Kawasan
daratan dan pantai dihuni imigran dari negri Tiongkok dengan pelabuhan rakyat
serta jalur perdagangan tersibuk.Transaksi perdagangan seperti
tembikar,guci,keramik,rempah-rempah, dan termasuk arca berlanggam Chola atau
India Selatan diperjual belikan.Tidak hanya niaga,tapi dibandar tertua di kota
Medan ini juga berlangsung aktivitas budaya.Kemajuan
perdagangan di Bandar Kota
Cina mendadak terhenti setelah kota itu dilanda musibah alam.
Situs
sejarah kota Rentang dan kota Cina belum ter-ekspose secara baik padahal kaya
dengan berbagai peninggalan sejarah khususnya yang berkaitan dengan perdagangan
melalui pelayaran internasional pada masa periode abad ke 12-14 M.Lokasi situs
ini berada dalam wilayah kota Medan dan dapat terjangkau dengan mode
teransportasi sehingga perlu di angkat menjadi sejarah lokal kota Medan dan
Sumatera Utara khususnya.

